JAKARTA, PropertiPlus.com — Biaya penataan kantor ternyata bukan cuma soal renovasi ruangan. Ada sejumlah komponen yang ikut menentukan besarnya anggaran, mulai dari sistem mekanikal dan elektrikal (M&E), pekerjaan konstruksi, harga material, hingga kebutuhan teknologi.
Menurut laporan Asia Pacific Office Fit-Out Costs Guide 2026 dari JLL, rata-rata biaya office fit-out di Asia Pasifik mencapai US$1.550 per meter persegi, dengan kenaikan sekitar 2–5 persen secara tahunan.
BACA JUGA: Unik! Material Sisa Panen Disulap Jadi Ruang yang Instagramable
Kondisi tersebut membuat perusahaan perlu memperhitungkan lebih banyak faktor ketika menyiapkan anggaran untuk membuka, memindahkan, atau menata ulang ruang kantor.
Biaya Penataan Kantor di Indonesia Paling Banyak untuk M&E
Lalu, sebenarnya uang paling banyak habis untuk apa?
JLL mencatat, layanan mekanikal dan elektrikal (M&E) menjadi komponen dengan porsi biaya terbesar dalam office fit-out di Indonesia. Berikutnya adalah pekerjaan konstruksi, sedangkan jasa profesional memiliki porsi biaya paling rendah.
Komponen M&E mencakup sistem teknis yang dibutuhkan agar ruang kantor dapat berfungsi dengan baik. Kompleksitas sistem tersebut juga semakin meningkat seiring kebutuhan terhadap teknologi dan standar bangunan yang lebih tinggi.
BACA JUGA: BLES Operasikan 43 Forklift Listrik, Dorong Efisiensi Pabrik
Karena itu, biaya penataan kantor tidak bisa dihitung hanya dari pekerjaan fisik seperti membuat sekat, mengecat dinding, atau mengganti lantai.
Kebutuhan sistem bangunan justru menjadi salah satu bagian penting dalam perhitungan anggaran.
Harga Baja dan Tembaga Ikut Menentukan
Harga material juga menjadi persoalan tersendiri.
Dalam laporan JLL, 68 persen pemimpin fungsi biaya di Asia Pasifik menyebut tekanan harga baja dan tembaga sebagai salah satu perhatian utama.
Kenaikan harga material dapat memengaruhi biaya konstruksi maupun komponen lain yang berkaitan dengan pembangunan dan penataan ruang.
Di saat yang sama, volatilitas pasar energi juga dapat memberikan tekanan terhadap harga. Asia Pasifik memiliki ketergantungan terhadap impor energi, petrokimia, serta material yang membutuhkan energi tinggi dalam proses produksinya.
Dampaknya bisa merambat hingga ke biaya proyek.
BACA JUGA: Kredit MNC Bank Tembus Rp13,1 Triliun di Semester I-2026
Tenaga Kerja Terbatas, Biaya Kontraktor Bisa Naik
Selain material, ketersediaan tenaga kerja juga menjadi faktor penting.
JLL menyebut keterbatasan tenaga kerja sebagai salah satu penyebab kenaikan biaya office fit-out. Penyesuaian harga berbasis risiko dan meningkatnya margin kontraktor juga ikut memberikan tekanan.
Artinya, biaya sebuah proyek tidak selalu sama meskipun luas ruang kantor yang ditata relatif serupa.
Kondisi pasar tenaga kerja dan jumlah proyek yang sedang berjalan di suatu kota dapat memengaruhi harga yang ditawarkan kontraktor.
Nilai Tukar Bisa Mengubah Anggaran
Ada satu faktor lain yang mungkin tidak langsung terlihat ketika perusahaan menghitung biaya renovasi kantor, yakni nilai tukar.
Menurut JLL, pergerakan nilai tukar dapat menciptakan distorsi biaya yang signifikan. Kondisi tersebut mendorong kontraktor menyesuaikan premi risiko dalam penawaran proyek.
BACA JUGA: Penyebab LRT City Mangkrak Terbongkar: Kas ADCP Seret, 2.400 Konsumen ‘Digantung’
Bagi perusahaan multinasional, JLL menyebut analisis dua mata uang atau dual-currency analysis diperlukan agar penyusunan anggaran dapat mempertimbangkan kondisi pasar lokal dan perubahan kurs.
Dengan begitu, perhitungan biaya tidak hanya melihat harga saat proyek direncanakan, tetapi juga risiko perubahan kondisi selama proyek berjalan.
Jakarta Justru Lebih Kompetitif Dibanding Sejumlah Kota ASEAN
Kabar menariknya, biaya penataan kantor Jakarta masih relatif kompetitif.
JLL mencatat biaya office fit-out di Jakarta lebih rendah dibandingkan sejumlah kota utama Asia Tenggara, yakni Singapura, Kuala Lumpur, Manila, dan Bangkok.
Posisi tersebut menjadi salah satu referensi bagi perusahaan yang sedang mempertimbangkan lokasi kantor di kawasan Asia Tenggara.
“Jakarta masih menjadi salah satu pasar perkantoran strategis di Asia Tenggara. Perbandingan biaya penataan ulang kantor Jakarta dengan kota-kota utama lainnya di kawasan memberikan referensi bagi perusahaan dalam menentukan prioritas, strategi pengadaan, serta perencanaan ruang kerja yang selaras dengan kondisi pasar,” kata Rosari Chia, Head of Office Leasing Advisory, JLL Indonesia.
BACA JUGA: Cara Membuat Ruang Server Kantor Sesuai Standar IT agar Operasional Tetap Aman
Meski begitu, perbandingan biaya antarkota tetap perlu dibaca bersama faktor lain, seperti harga sewa, kualitas gedung, aksesibilitas, tenaga kerja, dan kebutuhan operasional perusahaan.
Negara Mana yang Biaya Penataan Kantornya Lebih Tinggi?
Perbedaan biaya juga terlihat di antara kota-kota Asia Pasifik.
Menurut JLL, Jepang, Singapura, Australia, dan Selandia Baru memiliki biaya renovasi yang lebih tinggi dibandingkan sejumlah pasar lainnya.
Sebaliknya, India, Tiongkok, dan beberapa negara di Asia Tenggara masih menawarkan biaya yang relatif kompetitif.
Martin Hinge, Executive Managing Director, Project & Development Services (PDS) JLL Asia Pacific, mengatakan variasi biaya antarkota cukup besar dan salah satu penyebabnya adalah keterbatasan tenaga kerja serta standar kualitas bangunan yang tinggi di sejumlah pasar.
Ia juga menilai pergerakan nilai tukar menjadi salah satu faktor yang memengaruhi daya saing biaya di berbagai negara.
“Karena itu, analisis pada tingkat kota menjadi jauh lebih relevan dibandingkan sekadar melihat rata-rata kawasan,” ujar Martin.
BACA JUGA: Pendapatan Berulang 90%, Pantas Saja Paradise Indonesia Masih Pede Tumbuh
Kantor Berkelanjutan Juga Punya Biaya yang Perlu Diperhitungkan
Menariknya, di tengah kenaikan biaya fit-out, permintaan terhadap ruang kantor berkelanjutan justru meningkat.
JLL mencatat 88 persen pasar di Asia Pasifik melaporkan peningkatan permintaan terhadap proyek sustainable fit-out.
Sementara itu, 46 persen organisasi secara aktif menerapkan langkah-langkah untuk mengurangi konsumsi energi.
Artinya, kebutuhan ruang kantor saat ini mulai bergeser. Perusahaan tidak hanya mempertimbangkan tampilan interior, tetapi juga efisiensi energi dan kinerja ruang kerja.
Teknologi pun semakin menjadi bagian dari strategi tersebut.
JLL menyebut perusahaan mulai memprioritaskan ruang kerja berkinerja tinggi yang didukung teknologi sebagai bagian dari strategi mitigasi risiko, bukan sekadar peningkatan fasilitas.
BACA JUGA: Punya Rumah FLPP? Kini HGB Bisa Diubah Menjadi SHM Gratis, Ini Ketentuannya
Jadi, Apa yang Harus Dihitung Sebelum Menata Kantor?

Pada akhirnya, tidak ada satu angka yang bisa digunakan untuk semua proyek.
Rata-rata biaya US$1.550 per meter persegi merupakan angka regional Asia Pasifik, bukan tarif baku untuk setiap kantor di Jakarta.
Besarnya biaya tetap bergantung pada kondisi pasar lokal dan kebutuhan proyek, termasuk pekerjaan M&E, konstruksi, material, tenaga kerja, teknologi, serta spesifikasi ruang yang diinginkan.
Karena itu, perusahaan yang hendak membuka atau merenovasi kantor perlu melihat fit-out sebagai bagian dari perencanaan CAPEX sejak awal.
BACA JUGA: KPR Digital Makin Praktis, balé by BTN Bantu Cari Rumah hingga Pantau Pengajuan Secara Real Time
Jakarta memang masih menawarkan biaya yang relatif kompetitif dibandingkan sejumlah kota utama Asia Tenggara. Namun, biaya renovasi hanyalah satu bagian dari keseluruhan kalkulasi ketika perusahaan menentukan lokasi dan merancang ruang kerja baru.
***
Yuk, temukan banyak info seru lainnya di: www.PropertiTerkini.com dan WA Chanel










Leave a Reply