PropertiPlus.com, (JAKARTA) — Kalau sebagian besar pengembang bergantung pada penjualan rumah, apartemen, atau ruko, ceritanya sedikit berbeda di PT Indonesian Paradise Property Tbk (Paradise Indonesia/INPP).
Perusahaan yang menaungi berbagai destinasi gaya hidup seperti beachwalk Bali, 23 Paskal Bandung, Antasari Place Jakarta hingga 23 Semarang ini mengaku sekitar 90 persen pendapatan kuartal pertama 2026 berasal dari bisnis yang menghasilkan uang secara berulang atau recurring income.
Baca Juga: Dominasi Recurring Income hingga 82%, INPP Genjot Pertumbuhan Lewat Proyek Ikonik
Sumbernya bukan dari jual-beli unit properti, melainkan dari operasional hotel, pusat perbelanjaan, serviced apartment, dan berbagai aset komersial yang sudah berjalan.
“Kalau dilihat kuartal pertama tahun ini, sekitar 90 persen pendapatan berasal dari recurring income yang datang dari bisnis hospitality dan commercial,” ujar Wakil Presiden Direktur Paradise Indonesia, Surina.
Strategi ini membuat Paradise Indonesia relatif lebih nyaman menghadapi kondisi pasar yang masih penuh ketidakpastian.
Punya Jurus 4M
Di balik ekspansi perusahaan selama ini, ada formula yang mereka sebut strategi 4M.
Bukan singkatan misterius, melainkan fokus pada Middle-Up Market, Mid-Size Development, Mixed-Use Development, dan Major Cities.
Artinya, Paradise Indonesia memilih menggarap pasar menengah atas, proyek berskala menengah, kawasan terpadu, dan lokasi di kota-kota besar yang memiliki aktivitas ekonomi kuat.
Formula tersebut sudah digunakan selama bertahun-tahun dan ikut mengantar perusahaan menjaga tren pertumbuhan selama lima tahun berturut-turut.
Baca Juga: Ternyata VAR FIFA World Cup 2026™ Pakai TV RGB MiniLED Hisense
Dalam periode itu, Paradise Indonesia terus menambah portofolio mulai dari ekspansi beachwalk Shopping Center, akuisisi Antasari Place, pengembangan YELLO Hotel dan Aloft Hotel, peluncuran 31 Sudirman Suites Makassar, Hyatt Place Makassar, hingga Citadines Antasari Jakarta.
23 Semarang Langsung Ramai
Aset terbaru yang sedang menjadi sorotan adalah 23 Semarang Shopping Center yang resmi dibuka pada Juni 2026.
Respons pasar ternyata cukup menggembirakan.
Menurut Surina, trafik pengunjung saat ini sudah mencapai sekitar 30.000 hingga 40.000 orang per hari.
Bahkan Presiden Komisaris Paradise Indonesia, Anthony P. Susilo, menyebut tingkat okupansi kawasan tersebut sudah mendekati 90 persen.
Menariknya, 23 Semarang tidak hanya dibangun sebagai pusat belanja biasa.
Baca Juga: Masih Ada “Sapi Laut” di Indonesia, Ini Kisah Dugong yang Diam-Diam Menjaga Laut
Kawasan ini juga mengusung konsep ruang terbuka yang cukup besar sehingga pengunjung bisa datang bukan hanya untuk berbelanja, tetapi juga bersantai dan menikmati suasana kota.
Anthony bahkan menyebut filosofi desain proyek tersebut dengan kalimat yang cukup unik.
“Mall dibuat jauh di mata, dekat di hati,” ujarnya sambil menjelaskan bagaimana desain bangunan dirancang agar terasa luas dan nyaman dijelajahi pengunjung.
Dan, ada satu hal lain yang membuat 23 Semarang menarik.
Di atap dan area kanopi kawasan dipasang sistem panel surya berkapasitas 1,86 MWp.
Angka ini diproyeksikan mampu menghasilkan lebih dari 2,6 juta kWh energi bersih pada tahun pertama operasional atau memenuhi sekitar 23,5 persen kebutuhan energi kawasan.
Selain itu, lebih dari 50 tenant UMKM dan brand lokal juga ikut meramaikan pusat gaya hidup baru tersebut.
Baca Juga: 5 Cara Meningkatkan Keamanan Siber Perusahaan di Era Digital
Tetap Ekspansi, Tapi Lebih Selektif
Untuk 2026, Paradise Indonesia menyiapkan belanja modal sekitar Rp400 miliar.
Dana tersebut akan digunakan untuk penyempurnaan 23 Semarang, pengembangan Plaza 88 Balikpapan, serta renovasi sejumlah aset hotel.
Presiden Direktur Paradise Indonesia, Andri Hadi Salim, mengatakan perusahaan membidik pertumbuhan sekitar 5 hingga 10 persen tahun ini.

Alih-alih agresif membuka proyek baru, perusahaan kini juga melihat peluang dari mempercantik dan meningkatkan kualitas aset yang sudah ada.
Strategi ini dianggap lebih cepat menghasilkan dibanding harus memulai pembangunan dari nol.
Apalagi dengan neraca yang masih sehat. Paradise Indonesia saat ini mencatat rasio Net Debt to Equity Ratio (Net DER) sekitar 0,21 kali, level yang tergolong konservatif untuk perusahaan properti.
Baca Juga: Rumah Rp2,9 Miliar Ini Bukan yang Termurah, Tapi Justru Jadi Rebutan di Selatan Jakarta
Dengan kombinasi hotel, mall, serviced apartment, dan proyek baru yang mulai beroperasi, Paradise Indonesia tampaknya sedang menikmati buah dari strategi yang sudah dibangun sejak lama.
Saat sebagian pengembang masih berharap penjualan properti kembali bergairah, Paradise Indonesia sudah punya mesin uang lain yang terus bekerja setiap hari.
***
Yuk, temukan banyak info seru lainnya di: www.PropertiTerkini.com dan WA Chanel










Leave a Reply