SINGAPURA, PropertiPlus.com — Dampak kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di kawasan Asia Pasifik ternyata tidak mengurangi kebutuhan ruang perkantoran secara masif, melainkan merombak struktur tenaga kerja dan fungsi area kerja fisik.
Laporan riset Asia Pacific Workplace Insights terbitan Colliers menunjukkan bahwa kehadiran teknologi kecerdasan buatan justru meningkatkan urgensi kantor sebagai pusat inovasi, pembelajaran, dan kolaborasi tim.
BACA JUGA: Efisiensi Ruang Kantor Jadi Kunci Sebelum Perusahaan Relokasi
Laporan yang melibatkan 313 perusahaan pemanfaat kantor (occupier) di 11 negara Asia Pasifik—termasuk Indonesia—menegaskan fenomena flight to performance. Para penyewa kini mengalihkan investasi modal ke ruang kerja yang mendukung kapasitas talenta, efisiensi operasional, dan efisiensi biaya jangka panjang.
FAKTOR PENENTU KEBUTUHAN KANTOR KAWASAN APAC
-------------------------------------------
Peningkatan Efisiensi Biaya Operasional : 68%
Aksesibilitas Talenta Berkualitas : 50%
Stabilitas Geopolitik / Politik : 7%
(Sumber: Olah Data Colliers Research, 2026)
Pergeseran Fokus dari Kehadiran Menuju Kinerja Nyata
Sebanyak 82% organisasi di Asia Pasifik telah menerapkan pola kerja berbasis kantor (office-centric), dan 80% responden memproyeksikan tidak ada perubahan kebijakan tempat kerja dalam 12 bulan ke depan.
Prioritas utama korporasi kini berfokus pada keluaran kinerja, dengan 55% responden menempatkan produktivitas dan performa bisnis sebagai fungsi utama gedung kantor. Sementara itu, 52% perusahaan menekankan pentingnya ruang fisik untuk mendorong kreativitas dan kolaborasi antar divisi.
“Diskusi mengenai ruang kerja telah mengalami evolusi mendasar. Pertanyaan utama bagi mayoritas perusahaan bukan lagi mengenai keharusan karyawan hadir di lokasi kerja, melainkan bagaimana lingkungan fisik berkontribusi terhadap efisiensi, inovasi, dan efektivitas bisnis secara terukur,” ujar Mike Davis, Managing Director Occupier Services Colliers Asia Pacific.
BACA JUGA: Bukan Cuma Renovasi, Ini yang Bikin Biaya Penataan Kantor Mahal
PREDIKSI DAMPAK AI TERHADAP KEBUTUHAN RUANG KANTOR
--------------------------------------------------
Mendorong Kebutuhan Format & Tipe Ruang Baru : 47%
Mengurangi Total Luas Area Kerja (Footprint) : 36%
Tidak Memiliki Efek Langsung : 17%
(Sumber: Asia Pacific Workplace Insights)
Seluruh responden (100%) mengantisipasi keterlibatan AI dalam meningkatkan output dan efisiensi kerja. Dampak lanjutan menyasar pada pergeseran keahlian dan spesialisasi peran kerja (73%), serta restrukturisasi organisasi (61%).
Menariknya, 47% penyewa memprediksi adopsi AI akan meningkatkan permintaan format ruang kerja baru berbasis proyek, berbanding 36% yang memproyeksikan efisiensi luas lantai (footprint).
Efisiensi Biaya dan Produktivitas Sumber Daya Manusia
Tekanan biaya hunian (occupancy cost) diakui 75% responden sebagai pertimbangan utama dalam pengelolaan aset. Namun, strategi yang diambil mayoritas penyewa bukan serta-merta memangkas area sewa.
Sebanyak 40% perusahaan memilih memperpanjang masa sewa (lease renewal), 29% mempertahankan luas area saat ini, dan 17% merencanakan penataan ulang (reconfiguration) interior. Hanya 13% responden yang berencana melakukan konsolidasi luas area kerja dalam satu tahun ke depan.
BACA JUGA: Revolusi PropTech di Jakarta: Menara Astra Pelopori Sistem AI HVAC Bebas Capex
Chris Archibold, Managing Director Office Services Colliers Southeast Asia, menjelaskan pentingnya perbandingan biaya antara sumber daya manusia dan ruang fisik.
“Pergeseran kunci pada siklus properti saat ini adalah kesadaran bahwa real estat bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana penguat kinerja talenta. Ketika alokasi biaya tenaga kerja mencapai sekitar 65% dari total pengeluaran bisnis dan biaya kantor fisik hanya sekitar 15%, peran utama gedung perkantoran adalah menjadi pengganda nilai (high-yield multiplier) bagi investasi SDM yang jauh lebih besar tersebut,” papar Chris Archibold.
Tantangan Penyelarasan Kontrak Sewa dan Ekspansi Regional
Riset Colliers juga menemukan celah perencanan (planning gap) di tingkat manajemen. Meskipun 62% perusahaan mengadopsi pola kerja lintas fungsi berbasis proyek, sebanyak 57% belum menyelaraskan transformasi tenaga kerja berbasis AI dengan siklus jatuh tempo sewa gedung (lease expiry).
Baru 7% organisasi yang telah mengintegrasikan strategi transformasi SDM secara penuh dengan perencanaan ruang perkantoran.
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, kepercayaan terhadap pertumbuhan pasar Asia Pasifik tetap stabil. Akses terhadap talenta berkualitas (50%) dan efisiensi biaya operasional (68%) menjadi pertimbangan utama pemilihan lokasi bisnis, jauh melampaui isu politik yang hanya dipilih oleh 7% responden.
Sebanyak 40% perusahaan mempertahankan rencana ekspansi mereka, dan 34% penyewa secara aktif melangsungkan perluasan jaringan kantor di kawasan regional.
BACA JUGA:
Teknologi Shower Toilet LIXIL Raih Penghargaan Prestisius IEEE Milestone di Jepang
***
Yuk, temukan banyak info seru lainnya di: www.PropertiTerkini.com dan WA Channel










Leave a Reply