Duit Global Lagi Parkir di Asia, Data Center sampai Gedung Kantor Diborong

Pasar properti Asia Pasifik lagi panas-panasnya. Di tengah tren AI dan ekonomi digital, investor global ramai-ramai masuk ke sektor kantor, logistik, sampai data center.

investasi properti Asia Pasifik
Ilustrasi pertumbuhan investasi properti Asia Pasifik yang didorong sektor gedung kantor, logistik, dan data center di tengah ekspansi AI dan ekonomi digital regional. (Ilustrasi/PropertiTerkini.com)

PropertiPlus.com, Jakarta — Pasar properti Asia Pasifik lagi dalam mode “ramai pembeli”. Di tengah situasi geopolitik global yang belum stabil, investor justru makin agresif masuk ke kawasan ini.

Bukan cuma apartemen atau rumah tapak yang jadi incaran. Properti komersial seperti gedung kantor, kawasan logistik, sampai data center sekarang ikut diburu.

Baca Juga: Kok Bisa? Pasar Perumahan Turun, Bekasi Justru Makin Ramai?

Data terbaru JLL mencatat investasi properti komersial Asia Pasifik mencapai US$47 miliar pada kuartal pertama 2026. Angkanya naik 31% dibanding periode yang sama tahun lalu dan jadi rekor tertinggi untuk awal tahun.

Sementara itu, laporan Colliers juga menunjukkan total investasi properti Asia Pasifik dalam 12 bulan terakhir sudah menembus US$204 miliar.

Kalau disederhanakan: modal global lagi deras-derasnya masuk ke Asia.

AI Bikin Data Center Jadi “Properti Baru”

Salah satu yang paling menarik perhatian investor sekarang adalah data center.

Fenomena AI ternyata bukan cuma bikin industri teknologi sibuk. Dampaknya sudah mulai terasa sampai ke pasar properti.

Server AI, cloud, sampai kebutuhan penyimpanan data skala besar bikin permintaan data center melonjak tajam.

Baca Juga: Harga Rumah Naik di 11 Kota, Ternyata Bukan Karena Pasar Lagi Bagus… Ini Biang Keroknya!

JLL mencatat investasi sektor data center Asia Pasifik mencapai US$4,1 miliar hanya dalam tiga bulan pertama 2026.

Permintaan kapasitas data center berbasis AI bahkan diprediksi tumbuh rata-rata 19% per tahun dalam lima tahun ke depan.

Karena kota-kota besar mulai kehabisan lahan dan daya listrik, investor mulai melirik lokasi alternatif seperti Johor Bahru di Malaysia, Batam di Indonesia, sampai Bangkok di Thailand.

Batam sendiri mulai sering disebut dalam radar investor digital infrastructure karena lokasinya dekat Singapura dan biaya operasionalnya masih lebih kompetitif.

“Dalam jangka pendek, kami memperkirakan modal akan lebih banyak mengalir ke pasar yang matang dan likuid seperti Jepang dan Singapura,” ujar Stuart Crow, CEO Asia Pacific Capital Markets JLL.

Baca Juga: Usia 18 Tahun Udah Intip Harga Rumah, Kamu Masih Sibuk Scroll TikTok Doang?

Menurut Stuart, kenaikan biaya konstruksi akibat tekanan harga energi juga bisa membatasi suplai baru dan memperkuat nilai aset existing di lokasi strategis.

Jadi sekarang, kalau dulu orang rebutan lahan buat mal atau apartemen, sekarang rebutannya bisa gardu listrik dan jaringan fiber optik. Properti sudah naik level.

Gedung Kantor Ternyata Belum Mati

Di saat banyak orang mengira tren work from home bikin kantor kehilangan masa depan, faktanya sektor office justru masih jadi primadona investasi di Asia Pasifik.

JLL mencatat transaksi properti kantor mencapai US$24 miliar pada kuartal pertama 2026 atau naik 46% dibanding tahun lalu.

Nilai itu bahkan menyumbang lebih dari separuh total investasi properti regional.

Baca Juga: Mall Baru Summarecon di Makassar Siap Jadi Tempat Nongkrong Baru

Jepang masih jadi pemain terbesar. Banyak gedung kantor lama di Tokyo dibeli investor untuk direvitalisasi menjadi office premium generasi baru.

Salah satu transaksi terbesar datang dari akuisisi kantor pusat Dentsu Group oleh Brookfield dengan nilai sekitar US$1,9 miliar.

Sementara Singapura tampil paling agresif. Investasi properti komersial negara itu melonjak 433% menjadi US$11,5 miliar hanya dalam satu kuartal.

Theo Novak, Managing Director Capital Markets & Investment Services Asia Pacific Colliers, menilai investor global sekarang lebih fokus mencari pasar yang stabil dan mudah diperdagangkan.

Capital is returning to Asia Pacific with greater discipline in 2026. Investors are focusing on markets that offer scale, liquidity and transparency,” ujar Theo Novak.

Menurutnya, Asia Pasifik masih dianggap menawarkan kombinasi menarik antara pertumbuhan ekonomi, kestabilan pasar, dan peluang capital appreciation jangka panjang.

Baca Juga: Tren Ritel Jakarta 2026 Memanas! Ini 3 Alasan Kenapa Mal Kotak Mulai ‘Kuno’ dan Ditinggal Kabur Pengunjung

Investor Sekarang Cari Properti yang “Tahan Banting”

Menurut JLL, investor sekarang mulai fokus pada aset yang dianggap lebih tahan terhadap perubahan teknologi dan gejolak ekonomi.

Istilah kerennya: HALO. Singkatan dari Heavy Assets with Low Obsolescence.

Intinya, investor lebih suka aset yang pendapatannya stabil dan tidak gampang “ketinggalan zaman”.

Makanya sektor logistik, data center, hotel, sampai kawasan industri modern makin dilirik.

Pamela Ambler, Head of Investor Intelligence Asia Pacific JLL, mengatakan pendekatan investasi kini mulai bergeser ke aset yang lebih tahan terhadap disrupsi teknologi.

“Pendekatan HALO semakin meningkatkan daya tarik aset yang mampu memberikan pendapatan berkelanjutan dan lebih tahan terhadap disrupsi teknologi,” ungkapnya.

Baca Juga: Cara Menghitung Ampere RCBO yang Cocok di Rumah: Panduan Praktis untuk Pemilik Hunian

Sementara Colliers juga melihat aspek energi dan keberlanjutan mulai menjadi faktor besar dalam keputusan investasi properti.

Pertumbuhan AI dan data center membuat kebutuhan listrik meningkat tajam. Kota atau kawasan yang punya pasokan energi stabil diperkirakan bakal makin dilirik investor global.

Indonesia Kebagian Efek Positif

Indonesia ikut menikmati tren ini.

Farazia Basarah, Country Head JLL Indonesia, mengatakan investor masih cukup aktif memburu sektor logistik, manufaktur, data center, dan perhotelan di dalam negeri.

“Indonesia terus menarik minat investor yang kuat, didukung oleh fundamental pasar yang solid serta tren struktural jangka panjang seperti ekonomi digital yang besar dan terus berkembang,” kata Farazia.

Baca Juga: Kipas 300 Ribuan Ini Bisa Foto dan Rekam Video, Serius?

Faktor yang bikin Indonesia menarik masih sama: ekonomi digital besar, populasi produktif tinggi, dan pasar domestik yang kuat.

Ditambah lagi, banyak investor mulai mencari alternatif selain Singapura untuk pengembangan infrastruktur digital.

Kalau momentum ini terus berlanjut, kota-kota seperti Batam, Jakarta, Surabaya, hingga kawasan industri sekitar Jabodetabek bisa makin sering masuk radar investasi global.

Dan menariknya, sekarang yang dicari bukan sekadar gedung bagus. Tapi kawasan yang siap menopang ekonomi digital jangka panjang.

***
Yuk, temukan banyak info seru lainnya di: www.PropertiTerkini.com