PropertiPlus.com, Jakarta — Pasar perumahan Jabodebek-Banten (benchmark) Q1 2026 lagi tidak santai. Penjualan rumah turun, transaksi melambat, dan beberapa wilayah mulai terasa berat bergerak.
Data Indonesia Property Watch (IPW) mencatat nilai transaksi rumah turun 12,9% dibanding kuartal sebelumnya. Jumlah unit terjual juga ikut turun sampai 14,2%.
Baca Juga: Harga Rumah Naik di 11 Kota, Ternyata Bukan Karena Pasar Lagi Bagus… Ini Biang Keroknya!
Yang paling terasa ada di wilayah Banten, terutama Serang. Tapi uniknya, di tengah pasar yang lagi “ngerem”, Bekasi malah tancap gas.
Nilai penjualan rumah di Bekasi naik sampai 18,1%. Lumayan bikin banyak pelaku properti melirik ulang kawasan ini.
“Tren pertumbuhan pasar perumahan di Bekasi dan Bogor itu relatif terjadi pertumbuhan naik terus tapi landai. Yang membuat anomali sebetulnya karena di Banten terjadi penurunan jadi seakan-akan anomali,” ujar CEO Indonesia Property Watch, Ali Tranghanda.
Pasar Perumahan Jabodebek-Banten Lagi Geser Arah?
Kalau dilihat lebih dalam, pasar properti sebenarnya bukan benar-benar sepi.
Arahnya saja mulai berubah.
Dulu rumah di bawah Rp1 miliar masih jadi favorit. Sekarang pasar mulai bergerak ke segmen Rp1–2 miliar. Bahkan segmen ini jadi salah satu penyumbang transaksi terbesar di Jabodebek-Banten.
Menurut Ali, lonjakan tersebut banyak didorong proyek pengembang besar yang punya land bank luas dan stok produk cukup agresif di pasar.
Baca Juga: Dampak Perang Timur Tengah ke Properti 2026 Mulai Terasa, Diam-Diam Bikin Deg-degan
“Beberapa pengembang proyek perumahan yang dari pengembang besar yang land bank-nya luar biasa ini membukukan penjualan yang luar biasa di Q1 dan itu di rumah seharga Rp1–2 miliar,” katanya.
Di sisi lain, rumah di bawah Rp500 juta justru masih cukup berat bergerak.
“Segmen rumah di bawah Rp500 juta masih terus mengalami tekanan dalam beberapa triwulan terakhir karena daya beli masyarakat golongan menengah-bawah belum sepenuhnya pulih,” jelas Ali.
Banyak Libur dan Hari Besar, Orang Jadi Tunda Beli Rumah?
Awal tahun 2026 memang penuh agenda. Ada Imlek, Ramadan, Idulfitri, sampai Nyepi.
Menurut Ali, situasi ini ikut mempengaruhi ritme transaksi properti.
“Ini ada dampaknya dari Q1 itu karena banyak aktivitas keagamaan, seperti bulan Ramadhan, kemudian Imlek, Idul Fitri, dan Nyepi. Itu paling tidak mempengaruhi aktivitas masyarakat untuk membeli rumah,” ungkapnya.
Meski begitu, pasar properti ternyata belum benar-benar kehilangan tenaga.
Muhammad Lukman Hakim, Ekonom Senior Bank Indonesia (BI) Provinsi Banten, menyebut kinerja kredit properti masih relatif stabil meski pertumbuhannya belum terlalu agresif.
Artinya, pembiayaan masih tersedia. Hanya saja, pasar sekarang jauh lebih selektif.

Menariknya lagi, data IPW menunjukkan tingkat pembatalan transaksi juga naik sampai 17,28%. Ini jadi sinyal bahwa banyak calon pembeli masih hitung-hitungan sebelum benar-benar deal.
Kalau melihat polanya, pasar properti saat ini sepertinya bukan benar-benar turun.
Lebih tepatnya: lagi pindah jalur.
Baca Juga: Kipas 300 Ribuan Ini Bisa Foto dan Rekam Video, Serius?
Dan Bekasi?
sementara ini malah seperti lagi menemukan momentum baru.
👉 Versi lengkap dan analisis lebih detail soal pergeseran pasar properti 2026 bisa dibaca di PropertiTerkini.com
***
Yuk, temukan banyak info seru lainnya di: www.PropertiTerkini.com dan WA Chanel









Leave a Reply