SURABAYA, PropertiPlus.com — Sekam padi biasanya hanya dikenal sebagai sisa dari proses panen. Tapi bagaimana kalau material tersebut justru menjadi bagian dari desain ruang?
Eksperimen menarik itu bisa dilihat dalam Tapak Tumbuh: A Landscape in Transformation, instalasi kolaboratif yang memadukan material sisa panen, material daur ulang, tekstil, keramik, dan kriya menjadi sebuah pengalaman ruang yang unik.
BACA JUGA:BLES Operasikan 43 Forklift Listrik, Dorong Efisiensi Pabrik
Instalasi ini merupakan karya kolaborasi product designer Eugenio Hendro, Moire Rugs, dan sejumlah creative maker yang tampil dalam JIA Curated 2026 di Pantai Pengembak, Sanur, Bali. Acara tersebut berlangsung pada 13–17 Agustus 2026.
Dari luar, instalasi Tapak Tumbuh memang terlihat mencolok. Struktur paviliunnya dipenuhi tekstur, warna, material dengan karakter berbeda, serta hamparan tekstil yang membuat ruang terasa seperti lanskap buatan.
Namun, yang menarik bukan cuma tampilannya. Di balik desain tersebut ada eksperimen tentang bagaimana material yang berasal dari bumi dan sisa hasil panen bisa mendapatkan fungsi baru di dalam ruang.
Sekam Padi Masuk ke Dunia Desain
Salah satu material yang menjadi perhatian adalah sekam padi.
Melalui kolaborasi dengan Plana, limbah sekam padi dan HDPE daur ulang dieksplorasi sebagai material struktural dan permukaan arsitektural. Sekam padi yang tersisa dari proses panen dipadatkan menjadi bentuk fungsional untuk menopang kerangka instalasi.
BACA JUGA: Adu Mahal Sewa Hunian Ekspatriat Jakarta: Menteng vs Kebayoran Baru vs CBD
Dengan pendekatan tersebut, sekam padi tidak sekadar menjadi material sisa. Material ini dicoba masuk ke dalam proses desain dan menjadi bagian dari bentuk ruang yang bisa dilihat serta dialami pengunjung.
Konsep ini ditempatkan dalam bagian Harvest, salah satu dari empat lapisan utama Tapak Tumbuh, yaitu Earth, Harvest, Vegetation, dan Hands.
Bukan Cuma Sekam, Ada Tanah dan Tekstil Juga
Tapak Tumbuh memang dirancang seperti sebuah perjalanan.
Pada bagian Earth, misalnya, material keramik dan mosaik mengambil inspirasi dari tanah, retakan bumi, lapisan geologis, serta lanskap pertanian.
Singres Tiles menghadirkan permukaan mosaik yang secara visual menyerupai jejak tanah. Menariknya, setiap tile ditekan secara manual ke dalam cetakan besi sehingga menyimpan jejak fisik dari proses pembuatannya.
Berikutnya ada Vegetation yang diwujudkan melalui lanskap tekstil berskala besar dari Moire Rugs.
Hamparan tufted woven vegetation membentuk permukaan seperti pulau-pulau organik. Perbedaan tekstur, relief, dan tinggi serat membuat material tekstil tersebut terasa seperti bagian dari sebuah topografi.
Hasil akhirnya cukup fotogenik. Perpaduan tekstur, warna, bentuk organik, dan struktur paviliun membuat instalasi ini punya banyak sudut yang menarik untuk dieksplorasi secara visual.
Delapan Creative Maker Dirangkai Jadi Satu Ruang
Yang membuat Tapak Tumbuh berbeda adalah cara berbagai kolaboratornya ditampilkan.
Produk dan karya tidak dipisahkan menjadi booth-booth yang berdiri sendiri. Delapan creative maker justru dirangkai dalam satu perjalanan material dari pintu masuk hingga titik akhir instalasi.
Selain Moire Rugs, Eugenio Hendro Studio, dan Plana, kolaborasi ini melibatkan Presisi Contractor, Singres Tiles, Fumira, Rafes England, serta Visalux.
BACA JUGA: Penyebab LRT City Mangkrak Terbongkar: Kas ADCP Seret, 2.400 Konsumen ‘Digantung’
Presisi Contractor membantu menerjemahkan konsep menjadi bentuk fisik, sementara Visalux, Fumira, dan Rafes England melengkapi pengalaman melalui pencahayaan, penyelesaian paviliun, dan eksplorasi fungsi.
Jadi, pengunjung tidak hanya melihat “produk”, tetapi diajak mengikuti bagaimana material yang berbeda bisa bertemu dan membentuk satu ruang.
Ada Aktivitas Menumbuk Padi
Cerita tentang hasil panen juga tidak berhenti pada desain.
Dalam aktivasi Pound to Grow, pengunjung diajak menumbuk padi menggunakan lesung tradisional. Aktivitas tersebut sekaligus mengangkat kembali tradisi agraris Bali dan menjadi bagian dari donasi kolektif.
Beras yang dihasilkan kemudian didonasikan kepada keluarga dan pura di Jatiluwih, Tabanan, melalui kolaborasi dengan Bali Street Mums Project.
Dengan begitu, konsep Tapak Tumbuh memiliki alur yang cukup menarik: material berangkat dari bumi, hadir melalui hasil panen dan proses kreatif, masuk ke ruang desain, lalu kembali terhubung dengan komunitas.
BACA JUGA: Punya Rumah FLPP? Kini HGB Bisa Diubah Menjadi SHM Gratis, Ini Ketentuannya
Saat Material Sederhana Dibuat Jadi Lebih Menarik
Menurut Eugenio Hendro, product designer sekaligus konseptor Tapak Tumbuh, lanskap tidak sekadar digunakan sebagai latar dalam instalasi tersebut.
“Dalam Tapak Tumbuh, lanskap tidak kami pahami sebagai sekadar latar, tetapi sebagai proses yang terus bertumbuh dan bertransformasi dengan tujuan yang jelas.”
Ia melihat perjalanan dari bumi, panen, vegetasi hingga tangan manusia sebagai rangkaian yang saling terhubung dalam proses desain.
Pendekatan tersebut membuat material sederhana seperti sekam padi bisa ditempatkan dalam konteks yang berbeda. Bukan lagi sekadar sisa hasil panen, tetapi bagian dari eksperimen untuk mencari bentuk dan fungsi baru.
Tapak Tumbuh memang sudah selesai dipamerkan di JIA Curated 2026. Namun, instalasi ini meninggalkan satu ide yang menarik untuk dunia desain dan properti: material yang terlihat sederhana ternyata bisa menghasilkan ruang yang punya karakter kuat ketika dipadukan dengan kreativitas, kriya, dan teknologi material.
***
Yuk, temukan banyak info seru lainnya di: www.PropertiTerkini.com dan WA Chanel










Leave a Reply