JAKARTA, PropertiPlus.com — Drama pecah kongsi antara duo raksasa properti Australia asal Indonesia, Iwan Sunito dan Paul Sathio, rupanya masih jauh dari kata usai. Setelah benturan ego dan visi manajerial memaksa imperium Crown Group masuk ke meja likuidasi, perselisihan keduanya kini merembet ke ranah operasional aset.
Iwan Sunito baru-baru ini melayangkan “surat terbuka” bernada menyengat lewat akun LinkedIn resminya. Sasarannya tak main-main: Paul Sathio, keluarga Sathio, hingga firma kurator BDO. Fokus masalahnya ada pada dugaan penggunaan unit serviced apartment di gedung megah V by Crown Group, Parramatta, untuk hunian jangka panjang (long-term stay) tanpa izin yang sah (unauthorised).
Bagi Iwan yang kini Founder dan Group CEO One Global Capital, langkah ‘kucing-kucingan’ aturan tata kota dan strata by-laws ini bukan lagi sekadar urusan personal Paul Sathio. Jika dibiarkan, praktik non-prosedural tersebut ibarat bom waktu yang siap meledak dan memicu kerugian sistemik bagi seluruh penghuni.
“Paul Sathio, masalah ini tidak lagi dapat dipandang sebagai urusan pribadi yang hanya mempengaruhi unit Anda, atau bahkan hanya 72 pemilik serviced apartment di stratum terkait. Potensi dampaknya meluas ke seluruh bangunan dan setiap pemilik di dalamnya,” tegas Iwan Sunito tanpa basa-basi dalam unggahannya.
Taruhan Asuransi Hingga Anjloknya Nilai Investasi
Mengapa persoalan izin hunian ini bisa berdampak begitu fatal? Iwan membeberkan efek domino yang siap mengintai sekitar 540 pemilik lot di gedung pencakar langit tersebut.
Pertama, isu paling krusial: polis asuransi gedung (building insurance). Pihak asuransi punya klausul ketat. Begitu ditemukan adanya pelanggaran peruntukan fungsi bangunan, klaim ganti rugi ketika terjadi musibah berpotensi besar ditolak mentah-mentah.
Baca Juga: Duit Global Lagi Parkir di Asia, Data Center sampai Gedung Kantor Diborong
Kedua, ada ancaman keselamatan jiwa. Standar keselamatan kebakaran (fire safety compliance) dan jalur evakuasi untuk hotel atau sewa jangka pendek amat berbeda dengan hunian tetap. Menyamaratakan keduanya tanpa otorisasi jelas mengabaikan aspek keselamatan dasar.
Ketiga, berujung pada dompet pemilik unit. Ketidakpastian legalitas gedung ini diyakini bakal membuat perbankan enggan mengucurkan KPR (financing), menekan angka penilai harga (valuation), hingga membikin unit apartemen di sana sulit dijual kembali (saleability).
Melihat potensi riak tersebut, Iwan tak cuma menyentil Paul Sathio. Ia juga mendesak BDO selaku administrator Crown Group untuk tidak bersikap pembiaran. Operasional hunian yang belum jelas status legalnya itu dituntut untuk dihentikan sementara sampai seluruh bukti otorisasi diserahkan ke Owners Corporation.
Mahakarya yang Terjebak Sengketa
V by Crown Group sendiri punya ikatan emosional tersendiri bagi Iwan Sunito. Proyek yang kerap dijuluki “Sepotong Indonesia di Parramatta” ini berdiri megah dengan pilar baja raksasa berbentuk “V” di area lobi—baja yang diimpor langsung dari Cilegon, Banten.
Baca Juga: Punya Rumah FLPP? Kini HGB Bisa Diubah Menjadi SHM Gratis, Ini Ketentuannya
Dirancang kolaboratif oleh Allen Jack + Cottier (AJ+C) bersama arsitek dunia Koichi Takada, proyek hunian ini sempat memboyong penghargaan UDIA NSW Awards for Excellence. Di dalamnya bahkan menaungi situs cagar budaya Philip Ruddock Heritage Centre serta hotel boutique populer, SKYE Suites Parramatta.
Sayangnya, mahakarya bernilai triliunan rupiah itu kini terus terbayangi perseteruan tak berkesudahan pasca pecahnya kepemilikan saham 50:50 antara Iwan dan Paul.
Iwan Sunito Move On, Tancap Gas Bareng ONE Global Capital

Jika menengok ke belakang, akar konflik Iwan dan Paul berawal dari friksi manajerial, pembengkakan biaya konstruksi, hingga perbedaan pandangan soal keterlibatan keluarga dalam struktur bisnis.
Penawaran akuisisi bernilai AUD 97 juta (sekitar Rp1 triliun) yang sempat diajukan Iwan pada 2024 untuk menyelamatkan Crown Group pun bertepuk sebelah tangan.
Namun alih-alih jalan di tempat, Iwan Sunito memilih move on dan mengakselerasi bendera barunya, ONE Global Capital. Perusahaan ini sedang mematangkan portofolio di kawasan strategis Sydney seperti Macquarie Park dan Chatswood, sembari memasang target melantai di bursa (IPO) pada 2027.
Baca Juga: Update Terkini Summarecon Crown Gading: 7 Fakta Perkembangan Kawasan yang Perlu Diketahui
Langkah terbarunya, Iwan kembali menggandeng Koichi Takada untuk membidani proyek prestisius Five Dock, mixed-use senilai Rp25 triliun di Sydney.
Walau tengah gencar membangun proyek-proyek baru, Iwan menegaskan dirinya tidak akan angkat tangan atas sengketa V by Crown Group demi membela hak-hak konsumen dan pemilik aset.
***
Yuk, temukan banyak info seru lainnya di: www.PropertiTerkini.com dan WA Chanel










Leave a Reply