Tren Ritel Jakarta 2026 Memanas! Ini 3 Alasan Kenapa Mal Kotak Mulai ‘Kuno’ dan Ditinggal Kabur Pengunjung

Siapa sangka kalau sekarang orang ke mal bukan buat belanja baju, tapi cari udara segar dan konten? Perubahan gaya hidup ini bikin peta persaingan mal di Jakarta berubah total.

tren ritel Jakarta 2026
Gak cuma belanja, mal kekinian di Jakarta kini bertransformasi jadi ruang sosial yang asyik buat nongkrong, sesuai dengan tren ritel Jakarta 2026 yang makin dinamis. (Ilustrasi/PropertiTerkini.com)

PropertiPlus.com, Jakarta — Pernah merasa tidak kalau jalan-jalan ke mal zaman sekarang itu rasanya beda sekali? Kalau dulu kita masuk ke gedung besar, keliling dari lantai bawah sampai atas di ruangan tertutup ber-AC, sekarang rasanya gaya itu sudah mulai basi.

Kalau diperhatikan, tren ritel Jakarta 2026 ini benar-benar membawa kita ke era dimana mal tertutup yang membosankan mulai ditinggal pelanggan. Sekarang, kalau sebuah pusat perbelanjaan tidak punya area terbuka atau tempat nongkrong yang asyik, jangan harap orang mau datang berkali-kali. Mal-mal di Jakarta sedang dipaksa berubah kalau tidak mau jadi gedung hantu yang cuma diisi debu.

Baca Juga: Fenomena Rohana dan Rojali: Ketika Mal Ramai Pengunjung, Pedagang F&B Justru Panen Cuan

Isu utamanya sebenarnya simpel tapi dampaknya luar biasa besar: perilaku kita sebagai konsumen sudah berubah total. Kita tidak lagi butuh mal cuma buat beli barang, karena jujur saja, beli barang lewat ponsel sambil rebahan jauh lebih praktis dan harganya seringkali lebih miring.

Yang kita cari sekarang adalah pengalaman fisik yang tidak bisa didapatkan di layar smartphone. Inilah kenapa istilah “outdoor is the new indoor” jadi sangat viral di kalangan pengembang properti. Orang-orang sekarang lebih suka mal yang banyak area terbuka hijau, tempat bisa menghirup udara segar, sambil tetap bisa eksis di media sosial.

Dampaknya terasa ke siapa? Tentu saja ke mal-mal lama yang desainnya masih gaya “jadul” alias tahun 90-an. Mal yang isinya cuma deretan toko baju tanpa area publik yang menarik sekarang sedang megap-megap.

Di sisi lain, mal-mal premium atau kelas atas justru makin berjaya. Mereka berlomba-lomba menghadirkan konsep social space yang bikin kita betah duduk berjam-jam meski cuma beli kopi segelas. Fenomena “adu gengsi” antar mal ini makin terlihat jelas karena yang satu makin mewah dan penuh, sementara yang lain makin sepi dan kusam.

Baca Juga: Bukan Cuma Soal Pahala, Ini Alasan KPR Syariah Punya Kalkulasi yang Lebih ‘Masuk Akal’ Buat Kantong UMR

Willson Kalip, selaku Country Head Knight Frank Indonesia, memberikan catatan penting soal pergeseran ini. “Transformasi ritel Jakarta saat ini bergerak menuju era experience-led retail, dengan konsep yang menjadi pembeda utama, yang mampu menghadirkan open-air lifestyle, social space, dan kurasi tenant yang relevan terbukti lebih resilien dalam fase pemulihan pasar,” katanya.

Jadi, kuncinya bukan lagi seberapa besar gedung malnya, tapi seberapa asyik suasananya. Kalau konsepnya cuma kotak tertutup biasa, siap-siap saja ditinggal lari pengunjung yang sekarang makin pilih-pilih tempat nongkrong.

3 Alasan Utama Mengapa Mal Terbuka Jadi Pemenang dalam Tren Ritel Jakarta 2026

Nah, supaya tidak penasaran, mari kita bedah satu per satu kenapa fenomena ini terjadi. Pertama, ada pergeseran fungsi mal yang sangat drastis, dari pusat perbelanjaan menjadi “ruang sosial”. Dulu kita ke mal bawa daftar belanjaan, sekarang kita ke mal bawa badan buat ketemu teman.

Mal yang sukses di tahun 2026 adalah mal yang sadar kalau mereka tidak lagi berjualan barang, tapi berjualan “tempat nongkrong”. Kalau sebuah mal tidak punya sudut-sudut estetik buat difoto atau area luas buat kumpul, pengunjung bakal langsung coret mal itu dari daftar kunjungan akhir pekan mereka.

Baca Juga: Usia 18 Tahun Udah Intip Harga Rumah, Kamu Masih Sibuk Scroll TikTok Doang?

Kedua, adanya “demam” konsep terbuka atau open-air lifestyle. Setelah lama terkurung karena aturan pandemi beberapa tahun silam, warga Jakarta sepertinya punya trauma kolektif terhadap ruangan tertutup yang pengap.

Desain mal yang menyatukan area dalam dan luar ruangan kini dianggap lebih mewah dan sehat. Mal-mal yang punya banyak tanaman, sirkulasi udara alami, dan pemandangan langit kini jauh lebih laku ketimbang mal yang lampunya cuma neon dan udaranya hanya dari AC sentral. Konsep ini bikin kita merasa tidak sedang berada di dalam “kotak”, tapi sedang menikmati suasana kota.

fenomena rohana dan rojali, pusat perbelanjaan
Pengunjung yang ramai di area kuliner pusat perbelanjaan. (Ilustrasi – GeminiAI)

Ketiga, rahasianya ada pada kurasi penyewa (tenant) yang sangat spesifik, alias experience-led retail. Mal yang ramai saat ini adalah mal yang berani membuang toko-toko baju yang sepi dan menggantinya dengan brand makanan dan minuman (FnB) yang sedang viral.

Sebut saja brand seperti Chagee, Sushiro, atau Sancha yang sekarang jadi magnet luar biasa. Kita rela mengantre berjam-jam bukan cuma buat makanannya, tapi demi merasakan sensasi menjadi bagian dari tren tersebut. Tenant FnB dan lifestyle inilah yang sekarang jadi “nyawa” utama yang menarik orang masuk ke dalam mal.

Mengenai harga sewa, tentu saja ada hukum “ada rupa ada harga”. Di mal-mal premium yang punya tiga kriteria di atas, harga sewanya tetap stabil tinggi dan bahkan jadi rebutan para pemilik brand besar.

Baca Juga: Steril Tanpa Lelah! 3 Rahasia Dapur Higienis Saat ART Belum Balik

Sebaliknya, mal-mal kelas menengah bawah yang performanya masih tertekan seringkali harus banting harga atau memberikan banyak bonus supaya penyewanya tidak kabur.

Risikonya sangat nyata, kalau pengelola mal tidak mau beradaptasi dan tetap keras kepala dengan gaya lama, jangan heran kalau nanti gedungnya cuma jadi tempat numpang lewat atau sekadar pusat distribusi paket belanja online.

***
Yuk, temukan banyak info seru lainnya di: www.PropertiTerkini.com