PropertiPlus.com, (JAKARTA) — Pernah merasa bosan dengan suasana mall yang itu-itu saja? Nah, kehadiran Sutala di Nuanu Creative City Bali pada Oktober 2026 nanti sepertinya bakal jadi jawaban buat kamu yang haus akan suasana baru.
Proyek ambisius di bawah naungan Nuanu Real Estate ini sedang menyiapkan distrik kuliner dan gaya hidup seluas 17.000 meter persegi. Bukan sekadar deretan toko, tempat ini dirancang sebagai ruang terbuka hijau yang menyatukan makanan enak, seni, dan tempat nongkrong yang benar-benar manusiawi.
Baca Juga: X Hotel: Hotel Pertama di Nuanu Tawarkan Investasi Besar, Harga Mulai Rp2,6 Miliar
Isu yang berkembang saat ini adalah kejenuhan masyarakat terhadap pusat belanja konvensional yang terasa kaku. Dampaknya, banyak orang kini lebih memilih tempat yang menawarkan “pengalaman” dibanding sekadar transaksi jual-beli.
Pentingnya Sutala hadir sekarang adalah untuk memenuhi kebutuhan ribuan penghuni kawasan Nuanu, mulai dari komunitas kreatif hingga siswa sekolah internasional yang sudah menetap di sana. Ini bukan cuma soal bisnis, tapi soal menciptakan ekosistem sosial yang lebih hidup di Bali.
Soal harga atau nilai investasi, meski belum dipukul rata, kawasan Nuanu sendiri sudah dikenal sebagai area premium, kota kreatif seluas 44 hektar. Sebagai gambaran, investasi hunian di sekitar sini saja bisa dimulai dari angka miliaran rupiah [Baca lengkapnya di sini].
Risiko atau catatan pentingnya? Kamu mungkin harus sedikit bersabar karena gerbang Sutala baru akan dibuka resmi tahun depan. Namun, melihat antusiasme pasar yang sudah terbentuk, penantian ini rasanya bakal sepadan dengan fasilitas rooftop tepi pantai yang ditawarkan.
“Sutala mencerminkan evolusi industri kuliner. Saat ini orang tidak hanya mencari makanan, tetapi juga lokasi, atmosfer, dan komunitas,” ujar Fransiskus Conrad, Director of Sutala, saat berbincang di Jakarta, Senin (9/3/2026).
Ia juga menambahkan bahwa pengunjung nantinya tidak hanya datang untuk mengisi perut. “Kami ingin menciptakan tempat di mana orang tidak hanya datang untuk makan, tetapi juga berkumpul, berbincang, dan menikmati suasana,” jelasnya menekankan visi dari proyek ini.
Menjelajahi Sutala di Nuanu Bali yang Jauh dari Kesan Mall Tradisional
Salah satu hal yang bikin Sutala beda adalah komitmennya untuk tidak menjadi mall atau food court biasa. Bayangkan kamu jalan kaki di area yang luas tanpa gangguan asap kendaraan, karena kawasan ini memang didesain walkable.
Strategi tenant-nya pun sangat berani; sekitar 70 persen dialokasikan untuk F&B (Food & Beverage), tapi bukan merek sejuta umat yang sering kamu lihat di pusat kota. Pengembang justru berburu konsep kuliner unik yang punya identitas kuat dan jiwa seni.
Baca Juga: Eksplorasi Murino Group: Dari Dentuman Musik Black Owl ke Kemewahan Properti Premium Bali
Konsep unik ini lahir karena pola konsumsi kita yang sudah berubah drastis. Conrad menjelaskan bahwa selama puluhan tahun, mall di Indonesia polanya hampir seragam. Namun, Nuanu ingin mendobrak itu dengan pendekatan distrik komunitas.
“Kami tidak ingin menghadirkan tenant yang sama seperti di mall lain. Kami ingin konsep yang benar-benar unik dan sesuai dengan karakter kawasan ini,” tegas Conrad. Hal ini dilakukan agar pengunjung mendapatkan kejutan rasa di setiap sudut yang mereka datangi.

Bicara soal fasilitas, Sutala punya kartu as berupa lokasinya yang bersinggungan langsung dengan pantai. Ada area rooftop yang sengaja disiapkan sebagai spot terbaik menikmati matahari terbenam (sunset) sambil menyesap kopi atau menikmati makan malam.
Selain itu, ada teater terbuka untuk pertunjukan seni, playground untuk keluarga, hingga ruang rekreasi yang integratif. Semua ini dibuat agar interaksi sosial mengalir secara alami tanpa merasa dibatasi oleh tembok-tembok gedung tinggi.
Ke depannya, Sutala diprediksi akan menjadi pusat gastronomi baru yang menghidupkan kawasan Nuanu sepanjang hari. Dengan adanya 1.000 orang lebih yang sudah beraktivitas di sana setiap hari, permintaan pasar sebenarnya sudah terbentuk dengan sendirinya.
Baca Juga: Robot Phone dari HONOR: Ketika Smartphone Bisa Bergerak dan “Ikut” Penggunanya
Tantangannya tinggal bagaimana menjaga ritme pembangunan agar sesuai target Oktober 2026. Jika berhasil, Sutala bukan hanya akan jadi tempat makan favorit di Bali, tapi juga simbol baru bagaimana sebuah ruang komersial bisa hidup berdampingan dengan komunitas dan alam.
***
Yuk, temukan banyak info seru lainnya di: www.PropertiTerkini.com










Leave a Reply